Feeds:
Posts
Comments

JURNAL BELAJAR

ZOOLOGI AVERTEBRATA FILUM NEMATHELMINTHES

 

 

Nama               : Ardiani Samti Nur Azizah

Nim                 : 100341400678

Offr/Kelas       :A/A

Tangga                        : 9 Maret 2011

Jurnal               : ke 6

Kegiatan          : 1. Pengamatan awetan basah & preparat nemathelminthes

2. Presentasi nemathelminthes oleh kelompok 1

  1. A.    Konsep yang dipelajari

Pada pertemuan ini kami mempelajari tentang Nemathelminthes, yang pernah kami pelajari di SMA. Namun, materi yang kami dapatkan dari perkuliahan ini tentu lebih banyak dan mendalam. Ketika praktikum, kegiatan difokuskan pada pengamatan awetan basah cacing Nemathyhelminthes dan pengamatn preparatnya. Cacing Nemathyhelminthes yang dulu hanya saya lihat dari buku pelajaran, tetapi sekarang saya bisa melihatnya secara langsung. Alhamdulilah.

Filum Nemathelminthes merupakan hewan triplobalstik pseudoselomata. Anggota kelompok cacing ini memiliki tubuh bulat dan tidak bersegmen. Pada umumnya permukaan tubuhnya ditutupi oleh lapisan kutikula. Cacing gilik betina umumnya berukuran lebih besar daripada yang jantan. Gonad berhubungan langsung dengan saluran alat kelamin. Telur cacing gilik dilapisi oleh kitin. Semua nggota cacing ini bereproduksi secara seksual. Berikut ini contoh beberapa cacing gilik.

  1. a.      Ascaris lumbricoides

Cacing gilik ini disebut juga dengan cacing perut atau cacing usus. Panjang cacing betina bisa mencapai 20 – 40 cm dengan diameter 0,5 cm. Kedua ujung tubuhnya meruncing. Permukaan tubuh licin dilapisi oleh kutikula yang berfungsi untuk melindungi diri dari getah pencernaan manusia. Pada bagian ujung depan terdapat mulut dan tiga bibir. Pada bagian bawah epidermis  terdapat otot-otot memanjang. Cacing ini tidak memiliki system pernapasan. Pertukaran gas dilakukan melalui permukaan tubuh.Cacing perut betina dan jantan dapat dibedakan secra morfologinya. Betina berukuran lebih besar daripada jantan. Ujung posterior cacing jantan bengkok, sedangkan betina lurus.

  1. b.      Enterobius vermicularis

Cacing ini dikenal dengan sebutan cacing kremi. Hidup parasitdi dalam usus manusia hingga anus (pada nak-anak). Cacing kremi betina bertelur pada malam hari. Pada saat itu cacing bergerak ke adaerah anus inang dan mengeluarkan zat yang menimbulkan rasa gatal. Akibat rasa gatal tersebut, penderita seringkali menggaruk anus dengan tangannya. Jika penderita tidak menjaga kebersihan tangannya, maka telur cacing akan terbawa masuk kembali ke dalam tubuh bersama makanan. Hal ini disebut autoinfeksi.

  1. c.       Necator americanus

Banyak ditemukan di daerah tropic Amerika. Hidup parasit pada usus dua belas jari inang. Panjang tubuh dapat mencapai 1-1,5 cm. Pada bagian anterior mulut terdapat alat kait berupa gigi kitin. Alat tersebut berguna untuk melekatkan atau mencengkramkan diri pada dinding usus dan menghisap darah manusia. Cacing tambang dapat menghasilkan zat antibeku darah,sehingga dapat menyebabkan penderita mengalami anemia

  1. d.      Wuchereria bancrofti

Cacing ini dikenal dengan cacing fillaria, penyebab filliarist atau kaki gajah. Ccing filarial hidup parasit pada pembuluh limfa. Jika populasi cacing ini terlalu banyak, dapat menyebabkan tersumbatnya aliran limfa. Keadaan ini menyebabkan pembengkakan dalam tubuh terutama pada bagian kaki, sehingga kaki penderita Nampak besar seperti gajah. Penularan penyakit ini melaui gigitan nyamuk Culex yang mengandung larva microfilaria.

  1. e.       Heterodera radicicola

Cacing ini hidup parasit pada akar berbagai jenis tumbuhan sehingga sering dikenal sebagai cacing akar. Cacing dewasa bertelur di akar/ tanah dan dalam jangka waktu yang cukup lama telur menetas menghasilkan larva. Selanjutnya, larva menginfeksi akar dan masuk ke dalam jaringan tumbuhan untuk menyerap cairan tumbuhan tersebut

  1. Cacing Loa

Merupakan cacing parasit pada jaringan di bawah kulit manusia.Cacing Loa dapat menyerang mata sehingga cacing ini sering dikenal cacing mata. Cacing Loa dapat berpindah-pindah dari jaringan yang satu ke jaringan yang lainnya

 

  1. B.     Hasil eksplorasi sebagai bukti belajar
  2. Awetan Basah

Nemathelminthes 13

  • Belum diketahui jenis/masuk

Kelas apa

  • Bentuknya gilik
  • Tidak mikroskopis
  • Panjangnya 0,5 cm

Nemathelminthes 4

  • Berwarna putih pucat
  • Panjang 5 cm

Nemathelminthes 11

  • Berwarna putih pucat
  • Termasuk kelas
  • Ascari Lumbricoides

Nemathelminthes 15

  • Berwarna putih pucat
  1. Preparat Cacing Nemathelminthes

Preparat cacing Nemathelminthes ini, diamatai dengan menggunakan mikroskop Z04 dengan perbesaran 4x. Kemudian, ada yang penulis bandingkan dengn literature dari internet

  1. 1.      Ascaris cs

Cacing ascaris jantan                                            cacing ascaris betina

  1. 2.      Oxyuris
  1. Mikrofilaria
  1. 4.      Necator americanus
  1. Telur Necator americanus
  1. 6.      Bonostomum sp
  1. Telur oxyuris

 

  1. C.    Relevansi dan keterkaitan konsep yang dipelajari

Relevansi dan keterkaitan terhadap konsep yang telah saya pelajari adalah

  1. Cacing nemathelminthes dicirikan sebagai cacing gilik
  2. Ada cacing nemathelminthes yang mikroskopis dan hidup bebas, yaitu dari kelas rotifer
  3. Telur cacing nemathelminthes ada yang menetas di inang namun ada pula yang menetas di lingkungan luar
  4. Telur cacing nemathelminthes dapat masuk ke tubuh inang dengan berbagai cara salah satunya dikarenakan: kuku yang tidak bersih, sayuran yang dimasak kurang matang dan terinfeksi telur cacing ini atau udara bebas.
  1. D.                Identifikasi masalah dan pemecahannya
  • Dari kelompok 2 : Apakah masih ada silia pada Nemathelminthes ?dan bagaimana ciri khas gerakan Nemathelminthes ?

–          masih terdapat silia pada Nemathelminthes, contohnya pada rotifera. Silia pada rotifera terdapat pada daerah anterior. Selain itu juga terdapat mahkota berbentuk cakram yang bersilia pada bagian anteriornya.

  • Dari kelompok 3 : Pada setiap sisi anus terdapat kelenjar plasmid yang berfungsi sebagai grandula sensori. Apakah fungsi grandula sensori ?

–   Terjadi kesalahan pada pertanyaan ini. Kelenjar plasmid tidak terdapat pada sisi anus, melainkan sisi bibir. Fungsi grandula sensori yaitu sebagai kemoreseptor dimana dapat menanggapi rangsangan kimia dari luar.

  • Dari kelompok 4 : mengapa otot Nemathelminthes dibedakan menjadi otot polimiarian,holomiarian, dan meromiarian?apa yang menyebabkan hal itu ?

–     Polimiarian adalah ketika suatu sel otot banyak pada masing-masing kuadran, dan memperluas ruang selnya.

–     Holomiarian adalah ketika otot –otot tersebut kecil dan saling mendekat dan bersatu membentuk permukaan yang lengkap.

–     Meromiarian adalah ketika keadaan otot datar, dan hanya terdapat 2-3 pada tiap kuadran.

  • Dari kelompok 5 : Bagimana mekanisme respirasi aerob dan anaerob pada Nemathelminthes ?

–   Spesies pada filum Nemathelminthes tidak mempunyai alat respirasi khusus. Oleh karena itu, respirasinya dilakukan dengan cara difusi melalui permukaan tubuhnya. Oleh karena respirasi pada Nemathelminthes dilakukan melalui difusi, maka Nemathelminthes dapat melakukan respirasi secara aerob dan anaerob.

–   Respirasi aerob dilakukan oleh Hb dan pseodocoel. Kedua organ ini mengambil O2 dari luar tubuhnya. Umumnya, respirasi aerob dilakukan oleh organisme yang hidup bebas.

–   Respirasi anaerob dilakukan dengan cara menyerap glikogen dan mengubahnya menjadi CO2 dan asam lemak disekresikan melalui kutikula. Respirasi ini umumnya dilakukan oleh organisme yang hidup parasit.

  • Dari kelompok 6 : Mengapa rusuk H pada Nemathelminthes mereduksi ?

–          Reduksi disini artinya mereduksi fungsinya. Fungsi rusuk H digantikan oleh kanal ekskresi longitudinal.

  • Dari kelompok 7 : Apa yang menyebabkan alat kelamin pada Nemathelminthes mengalami reduksi ?

–          Organisme jantan pada Nemathelminthes hanya bisa melakukan kopulasi satu kali dalam hidupnya,sehingga setelah mereka mengeluarkan sperma, maka akan mereduksi karena hilangnya ATP yang digunakan untuk mengeluarkan sperma.

  • Dari kelompok 8 : Nemathelminthes hidup parasit pada inangnya dengan menghisap nutrisi dari inangnya, apa yang terjadi pada inangnya jika dihisap terus menerus? dan apa yang dimaksud makanan mentah pada proses pencernaan nemathelminthes ?

–          Makanan setengah jadi adalah glikogen. Glikogen ini diperoleh dari inangnya yang kemudian digunakan untuk proses respirasi. Inang yang dihisap terus-menerus nutrisinya tentunya akan mengalami gangguan fungsi pada jaringannya.

  • Dari kelompok 9 : Pada Ascaris Lumbricoides ada 4 papila labial yang bersifat kutikular dan disarafi oleh selaput saraf. Apa yang dimaksud bersifat kutikular dan disarafi oleh selaput saraf ?

–          Bersifat kutikular artinya bersifat melindungi dari enzim yang dihasilkan oleh tubuh inang. Dan memiliki sensitifator terhadap kemosensori karena memiliki saraf.

 

  1. E.     Element yang menarik

Hal menarik dalam praktikum ini adalah:

  1. Tidak semua cacing nemathelminthes berukuran panjang. Namun, ada pula cacing nemathelminthes yang pendek dan gilik.Atau bisa dikatakan bulat pepat.
  2. Lagi-lagi saya sangat kagum akan preparat cacing nemathelminthes yang kami amati.Tipis sekali!!!. Saya masuh mencari – cari tahu bagaimana ya cara membuatnya.
  3. Pada pengamatan dengan preparat cacing necator americanus. Saya tak habis pikir. Cacing ini dampaknya sungguh luar biasa, hingga menimbulkan ruam-ruam di kulit. Infeksi ini banyak terjadi di daerah tropic Amerika.
  4. Ternyata ada cacing ini yang mikroskopis, yaitu dari kelas rotifer
  1. F.     Refleksi diri

Alhamdulilah, akhirnya bab ini terlewati sudah. Rasanya berat sekali mempelajari bab ini. Disamping karena pembagian kelas atau filumnya yang membingungkan, lalu waktu yang harus saya gunakan untuk mempelajari materi ini , jujur sangat kurang.Meskipun waktu yang sebenarnya ingin saya gunakan untuk pulkam (hehe) tidak saya lakukan, ternyata belajar materi ini cukup menguras waktu dan pikiran saya. Selain itu, saya jadi lupa makan. Akibatnya tifus saya kambuh lagi (Semoga ini yang terakhir, Amin).

Pada saat presentasi, kelompok kami memang tidak kompak. Sebenarnya, kami memangkurang komunikasi antara satu sama lain. Terutama untuk diskusi. Ke depan, atas masukan dari teman – teman, InsyaAllah akan kami perbaiki.

  1. G.    Pertanyaan untuk bab selanjutnya

Pertanyaan untuk bab Annelida adalah

  1. Apakah cacing dari filum Annelida sudah memiliki hormone?
  2. Bagaimana mekanisme pergerakan cacing annelida ?
  3. Apakah cacing annelida mengalami moulting/pengeluapasan kulit ?

Nama                    : Ardiani Samti Nur Azizah

NIM/Offr             : 100341400678/A

Tgl Pertemuan  : 23 Februari 2011

Jurnal Ke              : IV

Dosen                   : Dr. Hj Sri Endah Indriwati M.Pd.

Kegiatan              : 1. Pengamatan Coelenterata

2. Presentasi Coelenterata

 

JURNAL PENGAMATAN COELENTERATA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Konsep yang telah dipelajari

Pada pertemuan kali ini kami membahas tentang coelenterta. Kami melakukan pengamatan terhadap berbagai bentuk dan warna karang serta pengamatan hydra. Pertama, kami mengambil mikroskop dan kelomopok pinjam alat membagikan peralatan lain yang diperlukan yaitu : pipet tetes (untuk mengambil hydra), kaca preparat, serbet dan kertas tisu.

 

  1. Hasil eksplorasi sebagai bukti belajar

Hasil Observasi Awetan Basah Coelenterata

 

Kelas Anthozoa

 

Anthozoa7

Anthozoa 8

Anthozoa 11

a. warna mayoritas putih a. Warna putih tulang a. warna putih tulang
b. struktur tubunya ada b. Bentuk seperti bunga kol b. Banyak ditemuan tentakel
yang transparan c. Banyak ditemukan  
c. tentakel berada dibawah tentakel  
struktur tubuhnya yang d. mempunyai tinggi  
transparan 8 cm lebar 7 cm  
     
     
     

Gambar Awetan Basah Colenterata

 
 

Anthozoa 7

Anthozoa 8

Anthozoa 11

 
       
       
       
       
       
       

 

 

  1. Relavansi dan keterkaitan konsep yang telah dipelajari

Setelah saya mempelajari porifera dan coelenterate, saya membandingkan keduanya. Berikut table perbandingan coelenterate dan porifera.

Perbandingan Karakteristik antara Porifera dan Coelenterata  
No Porifera Coelenterata
1 Diploblastik: Ektoderm dan endoderm di antara kedua lapisan tersebut terdapat mesenchyme Diploblastik: Ektoderm dan endoderm di antara kedua lapisan tersebut terdapat mesenchym/mesoglea
2 Umumnya hidup bebas di laut dan air

Dan tawar

Hidup bebas di laut dan air tawar
3 Tubuhnya memiliki pori & spongocoel Memiliki rongga gastrovaskuler (usus)
4 Respirasi: difusi melalui permukaan

tubuh

Respirasi: difusi melalui permukaan tubuh
5 Ekskresi: melalui permukaan tubuh Ekskresi: melalui permukaan tubuh
6 Penc. makanan: intrasel Penc. makanan: intrasel dan ekstrasel
7 Belum memiliki sistem saraf Sudah memiliki sistem saraf diffuse
8 Reproduksi vegetatif: membentuk tunas luar dan tunas dalam (gemule). Generatif: persatuan antara spermatozoid dan ovum Reproduksi vegetatif: membentuk tunas luar. Generatif: persatuan antara spermatozoid dan  ovum
9 Tidak memiliki appendages/embelan Memiliki appendages berupa tentakel

 

Perbandingan Fisiologis

No Porifera Coelenterata
1 Respirasi: difusi melalui permukaan tubuh

 

Respirasi: difusi melalui permukaan tubuh

 

2 Ekskresi: melalui permukaan tubuh

 

Ekskresi: melalui permukaan tubuh

 

3 Penc. makanan: intrasel pada choanocyte

 

Penc. makanan: ektrasel pada rongga gastrovascular dan intrasel pada sel berflagel

 

4 Sistem saraf belum ada

 

Sudah memiliki sistem saraf diffuse dengan ganglion yang tersebar di seluruh bagian tubuh. Proses Stimulus Respon: Stimulus à sel sensoris à sel saraf à ganglion terdekat respon à sel saraf à efektor

 

5 Reproduksi vegatatif dengan tunas luar dan gemule

Reproduksi Generatif:

Archeocyte                               Archeocyte

Oogonium                            Spermatogonium

Ovum                                            Sperma

Zigot

 

Embrio

Amphiblastula                      Parenchymula

Porifera Calcareou    Poriferanon calcareous

Reproduksi vegetative dengan tunas luar

 

Reproduksi Generatif:

Sel interestisial               Sel interestisial

Ovarium                            Testis

Oogonium                   Spermatogonium

Ovum                                 Sperma

Zigot

Embrio

Larva/tidak ada

Individu muda

 

  1. Identifikasi Masalah

Pada presentasi coelenterate, pertanyaan dari peserta diskusi adalah:

  1. Dari Putu: Tolong jelaskan sel stomedium, mesentrium dan sel jelatang !
  2. Dari Anisa: Bagaimana proses pencernaan pada Aurelia? Apa mneluarkan sengatan listrik?
  3. Dari Bonni : Apakah pada colenterata terdapat spikula da pori seperti pada porifera?

 

  1. Pemecahan Masalah

Pemecahan masalah dari pertanyaan peserta diskusi adalah

  1. Sel jelatang/knidoblast adalah hasil perkembangan atau modifikasi dari sel interstisial.Di dalam knidoblast ditemukan kantong beracun yang disebut nematokist
    1. Saluran pencernaan pada Aurelia adalah rongga gastrovaskuler.Di ujung distal manubrium terdapat lubang mulut yang berisi empat, setiap sisi/sudut mulut dilengkapi semacam juluran pita yang menelungkup panjang yang disebut lengan-lengan mulut.Kempat lengan mulut menyatu , sehingga mengelilinggi lubang mulut.Masing-masing kantong gastric dilengkapi dengan tentakel internal endodermal lengkap dengan nematokistnya yang dapat digunakan untuk menghancurkan mangsa.Jadi , untuk melemahkan mangsa, ubur-ubur mengeluarkan sengatan listrik.Berikut mekanisme penangkapan mangsanya.

Zat lendir membantu mengumpulkan zooplankton          disapu oleh flagel,dicakup oleh tangan-tangan mulut        masuk kedalam mulut    terjadi pemilihan jenis makanan oleh bulu-bulu getar         makanan pilihan (yang disukai)         ditampung dalam rongga garstrovaskuler. Didalam rongga gastrovaskuler makanan yang belum mati, akan diparalis oleh nematokist.

 

  1. Ada coelenterate tidak terdapat spikula, karena pada colenterata struktur penyokong tubuhnya sudah terspesialisasi. Pada coelenterate tidak terdapat pori, karena colenterata adalah hewan berongga

 

 

  1. Element yang menarik

Dalam pengamatan coelenterate hal yang menarik menurut saya adalah :

  1. Karang yang kami amati ternyata adalah sekresi dari coelenterate yang tinggal pada karang tersebut. Jadi, hewan coelenteratanya sudah meninggalkan substrat tersebut atau sudah mati. Substrat yang ditinggalkan (yang biasa kita sebut karang) dapat mewakili bentuk hewan coelenterta yang tinggal di substrat tersebut.
  2. Hydra dapat bergerak memendek dan memanjang.
  3. Refleksi Diri

Pada saat pengamatan dengan menggunakan awetan kering (karang) awalnya saya mengira tu adalah hewan colenterata, tapi ternyata konsep saya selama ini salah. Karang yang beraneka warna dan bentuk tersebut adalah hasil sekresi dari hewan coelenterate yang tinggal pada karang tersebut.

 

Pada pengamatan colenterta ini, saya sangat bersyukur dapat menangkap hydra dengan pipet tetes dan mengamatinya.Subhanallah, ternyata hydra sangat indah dan menakjubkan. Saya kira hydra berukuran besar (6-10 cm) karena di buku buku SMA saya dulu, foto hydra Nampak sangat besar. Sehingga untuk melihatnya lebih detail tidak perlu menggunakan mikroskop. Namun konsep saya selama ini ternyata salah, hydra berukuran kurang lebih 2 mm. Maka untuk melihatnya lebih detail digunakan mikroskop.

 

  1. Pertanyaan untuk bab selanjutnya
    1. Tentang system integument/struktur tubuh

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kupu – kupu adalah serangga–serangga yang umum dan dikenal oleh setiap orang. Kupu-kupu secara langsung dapat dikenali oleh sisik–sisik pada sayap, yang lepas seperti debu pada jari-jari seseorang bila serangga–serangga dipegang (Borror,1992). Di alam keanekaragaman jenis kupu–kupu berbeda di setiap tempat. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya jenis tanaman, udara yang bersih, dan pencahayaan yang cukup (Noprin, 2010).
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa udara bersih sekarang sulit untuk didapatkan. Hal ini disebabkan oleh polusi udara dari asap kendaraan bermotor. Di area kampus Universitas Negeri Malang (UM) misalnya, jumlah mahasiswa yang membawa kendaraan masuk area kampus meningkat. Hal ini akan mempengaruhi ekosistem tanaman dan hewan yang ada di dalam kampus UM, khususnya kupu-kupu yang biasa ditemukan di taman.
Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan judul Mengidentifikasi Kupu-Kupu Di Area Universitas Negeri Malang. Agar dapat mengetahui keanekaragaman jenis kupu-kupu di kampus Universitas Negeri Malang, peneliti juga ingin mendapatkan manfaat dari penelitian ini yaitu dengan kemungkinan ditemukan banyak populasi kupu-kupu berarti mengindikasikan bahwa tingkat polusi udara di UM masih relatif rendah. Atau sebaliknya, jika ditemukan sedikit populasi kupu-kupu, maka mengindikasikan bahwa udara di UM tercemar.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana ciri-ciri kupu – kupu yang ditemukan di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,areaGedung Asarama Putri Baru ,area Grahacakrawala dan area MIPA?
2. Jenis kupu-kupu apa saja yang ditemukan di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,area Gedung Asrama Putri Baru, area Grahacakrawala dan area MIPA?
3. Jenis kupu-kupu apa yang paling dominan di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,area Gedung Asrama Putri Baru,area Grahacakrawala dan area MIPA

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat disusun tujuan penelitian sebagai berikut.
1. Mengetahui ciri–ciri kupu–kupu yang ditemukan di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,area Gedung Asrama Putri Baru,area Grahacakrawala dan area MIPA
2. Untuk mengetahui jenis kupu-kupu yang ditemukan di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,area Gedung Asrama Putri Baru, area Grahacakrawala dan area MIPA
3. Untuk mengetahui kupu-kupu yang paling dominan di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan, area Gedung Asrama Putri Baru, area Grahacakrawala dan area MIPA

1.4 Kegunaan Penelitian
Manfaat dalam penelitian proyek kupu-kupu ini adalah mengetahui dan mengidentifikasi jenis kupu-kupu yang ada di area kampus UM. Sehingga diharapkan keanekaragaman jenis kupu-kupu yang terdapat di area UM dapat terindentifikasi jenisnya. Serta,kupu-kupu yang telah ditangkap dan dibuat insektarium dapat digunkan sebagai media ajar mata kuliah Zoologi Invertebrata, untuk mempelajari filum Arthropoda.
1.5 Asumsi Penelitian
Asumsi dasar dalam penelitian ini antara lain:
1. Seluruh faktor lingkungan seperti suhu, cahaya dan perubahan lingkungan selama penelitian ini dianggap sama.
2. Kupu-kupu yang didapatkan dari penelitian ini mewakili kenekaragaman jenis kupu-kupu di area kampus Universitas Negeri Malang.

1.6 Keterbatasan Penelitian
Untuk memberikan gambaran yang jelas terhadap penelitian ini, berikut disajikan batasan penelitian antara lain:
1. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan.
2. Pada penelitian ini,peneliti tidak mengidentifikasi daur hidup, jenis makanan, dan jenis kelamin dari kupu kupu yang ditemukan.
3. Penelitian ini diakhiri dengan pembuatan insektarium.
4. Semua jenis kupu-kupu yang didapatkan dalam penelitian, akan diidentifikasi, untuk memastikan kedudukan hewan tersebut. Kemudian dibuat insektariumnya.

1.7 Definisi Operasional
1. Kupu – kupu dalam penelitian ini adalah semua jenis kupu-kupu yang ditemukan di taman dan dapat membantu penyerbukan.
2. Kegiatan identifikasi adalah mencari, memperoleh, mengamati, mencandra, dan mendiskripsikan objek penelitian serta mengambil kesimpulan berdasarkan hasil deskripsi yang diperoleh.
3. Bagian morfologi kupu-kupu yang diamati bagian tersebut meliputi kepala, dada/thorax dan abdomen/perut.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi
Kupu-kupu merupakan anggota filum arthropoda dari ordo Lepidoptera. Menurut Kastawi (2005) dan Borror (1992) sistematika dari kupu-kupu sebagai berikut.
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Subkelas : Endopterygota
Ordo : Lepidoptera

2.1.1 Ciri–ciri Morfologi Umum Kupu-kupu
Ciri-ciri morfologi umum kupu-kupu menurut Borror (1992) meliputi:
1. Sayap
Perangka sayap memiliki 2 tipe umum yaitu homoneura dan heteroneura. Perangka sayap terdapat dari bagian depan dan sayap- sayap belakang adalah serupa. Terdapat banyak cabang R pada sayap belakang daripada sayap depan. Pada perangka sayap bagian belakang menyusut, Rs selalu tidak bercabang(Borror,1992).
Perangka sayap homoneura terdapat didalam sub ordo Zeubloptera, Dachnonypha dan exsoporia. Kelompok-kelompok ini mempunyai subkosta yang sederhana atau dua cabang, radius lima cabang (kadang-kadang 6 cabang), media 3 cabang dan biasanya terdapat 3 rangka sayap anal(Borror, 1992).
Subordo sisanya (Monotrysia dan Ditrysia) mempunyai perangka sayap yang heteroneura. Radius pada sayap muka biasanya mempunyai 5 cabang (terkadang lebih sedikit), tetapi pada sayap belakang sector radial tidak bercabang dan R1 biasanya besatu dengan subkosta.Rangka sayap anal pertama seringkali atrofi atau bersatu dengan A2 (Borror, 1992).
Rangka rangka sayap dapat bersatu dengan berbagai cara pada kelompok heteroneura dan persatuan atau pertangkaian ini digunakan dalam kunci. Subkosta pada sayap depan, hampir selalu bebas dari discal dan terletak diantaranya adalah kosta. Cabang cabang radius timbul dari sisi anterior sel discal atau dari subtanterior bagian luar. Dua atau lebih cabang dari radius sering kali bertangkai, yaitu bersatu pada beberapa sel discal (Borror, 1992).
2. Kepala
Sungut kupu kupu ramping dan menjendol pada ujungya. Ruas dasar sungut pada beberapa mikrolepidoptera membesar dan apabila sungut dibengkookan kebawah dan kebelakang ruas ini tepat diatas mata. Ruas sungut dasar yang membesar disebut tudung mata. Ciri- ciri bagian mulut kebanyakan dipakai di dalam kunci sifat palpus-palpus rabialis da maksila serta trobosis (Borror, 1992).
3. Tungkai
Ciri- ciri tngkai mencakup bentuk-bentuk taji- taji tibia, kupu- kupu tarsus ada tidaknya duri pada tungkai dan kadang struktur dari epifisis. Epifisis adalah sebuah bantalan yang dapat bergerak atau struktur seperti taji pada permukaan dalam tibia depan yang dipakai untuk membersihkan sungut. Tungkai-tungkai depan sangat menyusut pada beberapa kupu kupu terutama Nymphalidae, Dainaedae, Satrydae, dan Libytheide (Borror, 1992).

2.1.2 Daur Hidup Kupu-kupu
Secara keseluruhan rata- rata daur hidup adalah 56 hari, yang terdiri dari empat fase yaitu:
1. Fase 1 (fase telur)
Telur kupu-kupu mempunyai bentuk yang berbeda-beda berdasarkan jenis. Ada beberapa telur diantaranya yang kulitnya seperti karet dan melengket, ada yang berbintik-bintik atau ditutupi aoleh sesuatu yang berbentuk jala, sedang yang lainnya pada umumnya licin. Pada bagian atas dari telur akan terlihat suatu cekungan bila kita menggunakan mikroskop yang baik. Bentuk telurnya juga beraneka ragam, tergantung dari jenisnya. Ada yang berbentuk spiral, oval, bulat atau plat. Waktu yang dibutuhkan dari telur untuk menjadi larva berbeda-beda pada setiap jenis. Sebagai contoh misalnya pada jenis Graphium agamemnon membutuhkan waktu 5 – 7 hari, Troides hypolitus cellularis 8 –10 hari, sedangkan Papilio satapses membutuhkan waktu 4 –6 hari (Noprin, 2010).
2. Fase 2 ( fase larva)
Fase caterpillar berbeda-beda waktunya pada setiap jenis. Ada yang waktunya sangat pendek, ada pula yang hanya beberapa minggu, tetapi yang lainnya mungkin berbulan-bulan, baru bisa berkepompong. Sebagai contoh misalnya pada jenis Graphium agamemnon membutuhkan waktu sekitar 17 hari untuk menjadi kepompong, Troides hypolitus cellularis 28 hari, sedangkan pada Papilio satapses membutuhkan waktu 23 – 24 hari.
Setiap jenis mempunyai bentuk, warna dan bulu ulat yang berbeda, dan memakan pakan yang berbeda pula. Itulah sebabnya, kupu-kupu akan meletakkan telurnya pada pakan dimana akan menjadi makanan dari ulat bila kelak telur telah menetas. Biasanya larva kupu-kupu mempunyai alat perlindungan dari serangan predator, yakni mengeluarkan osmeterium, yaitu semacam zat beracun yang berbau tidak enak melalui suatu alat seperti antena pada bagian kepala dari ulat tersebut (Noprin, 2010).
3. Fase 3 ( fase pupa)
Jika pertumbuhan larva telah sempurna, maka larva mencari tempat-tempat khusus untuk melakukan transformasi dan dapat saja meninggalkan sumber pakannya atau memasukkan dirinya kedalam tanah.
Pada fase pupa, ulat akan mengalami fase istirahat. Fase ini digunakan untuk membentuk sel-sel imago dan merupakan masa persiapan untuk penggantian kulit sebelum terjadi pergantian kulit yang tetap pada fase imago.
Setiap jenis mempunyai bentuk dan warna pupa yang berbeda.
Sebagai contoh misalnya Graphium agamemnon mempunyai pupa berwarna hijau muda yang lambat laun akan berubah menjadi abu-abu, sedangkan pada Papilio satapses mempunyai pupa yang berwarna hijau kekuningan, yang lambat laun akan berubah menjadi coklat. Sedangkan waktu yang dibutuhkan dari pupa menjadi imago juga berbeda pada setiap jenis. Graphium agamemnon membutuhkan waktu 14 hari, Troides hypolitus cellularis 28 hari, sedangkan Papilio satapses membutuhkan waktu jug 14 hari (Noprin, 2010).
4. Fase 4 (fase imago)
Pada fase ini ulat yang berkepompong telah berubah menjadi kupu-kupu yang sebenarnya. Kupu-kupu tersebut telah diperlengkapi dengan alat yang penting untuk digunakan atau cocok untuk digunakan pada ranting, atau objek lainnya dimana kupu-kupu ini akan menggantung atau bertengger yang biasanya dalam posisi yang terbalik dan merupakan posisi penting dalam mengambil tempat. Peralatan ini adalah berupa sayap, antena untuk mencium, probosis (belalai) digunakan untuk mengisap atau memakan, dan kaki untuk bertengger.
Setiap jenis mempunyai umur imago yang berbeda-beda. Pada jenis Graphium agamemnon, umur imago bisa mencapai 50 – 59 hari, Troides hypolitus 9 – 10 hari, sedangkan Papilio satapses hanya berumur 13 – 14 hari.. Ada dua bentuk umum metamorphosis yaitu: holometabola dan paurometabola. Holometabola adalah metamorfosis sempurna, yang proses menuju dewasa melibatkan ketiga unsur ganti diatas, ganti kulit, ganti ujud dan ganti ukur. Contohnya, pada kupu-kupu, jalan hidupnya harus dilalui dari telur, ulat,kepompong dan akhirnya berakhir pada kupu-kupu cantik dewasa. Sedang, paurometabola adalah metamorfosis setengah sempurna, yang proses menuju dewasa hanya melibatkan unsur ganti kulit dan ganti ukur. Contohnya, Jangkrik, dari telur, ke jangkrik muda yang bentuknya hampir mirip dengan jangkrik tua dan akhirnya menjadi jangkrik tua (Noprin, 2010).

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konseptual

3.2 Hipotesis
Berdasarkan tujuan di atas,maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut.
1. Ciri–ciri kupu-kupu di setiap lokasi penelitian (di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,Area Grahacakrawala dan Area MIPA) adalah berwarna terang dan memiliki sayapyang bagus dan berkembang
2. Jenis kupu-kupu di setiap lokasi penelitian (di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,Area Grahacakrawala dan Area MIPA) adalah ngengat-ngengatan dan kupu-kupu besar
3. Jenis kupu-kupu yang paling dominan adalah dari famili Nymphalidae

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian
Pada proyek penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian diskriptif. Dengan mendiskripsikan morfologi dari kupu kupu yang diperoleh.

4.2 Subjek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian adalah kupu–kupu yang ditangkap dari taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, di belakang Green House Biologi, di belakang GLB dan Pascasarjana. Kemudian kupu kupu yang telah diedentifikasi morfologinya, dibuat menjadi insektarium.

4.2.1 Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai April 2011 (20 Maret , 27 Maret, 1 April, 10 April,21 April dan 23 April 2011)

2. Tempat Penelitian
Sampel didapatkan dari:
1. Taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang (UM)
2. Area Masjid UM
3. Fakultas Ekonomi
4. Fakultas Pendidikan
5. Area Gedung Asrama Putri Baru
6. Area Grahacakrawala
7. Area MIPA

4.2.2 Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh populasi kupu kupu di area kampus Universitas Negeri Malang.
2. Sampel
Sampel pada penelitian ini, diambil dalam waktu yang sama dan cara penangkapan yang sama.Lokasi yang dijadikan sampel adalah: di taman perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang, area Masjid UM, Fakultas Ekonomi, Fakultas Pendidikan,area gedung Asrama Putri Baru, area Grahacakrawala dan area MIPA

4.2.3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut.
a. Alat: sweep net, box besar (tupperwear), lup, mikroskop stereo,jarum insect, lampu 5 watt, kabel, stop kontak, meteran, penggaris
b. Bahan: kertas papilla, sterofoam 50 x 30 cm, kardus, alat tulis, buku tulis, kapur barus, buku kunci identifikasi.

4.2.4 Prosedur Kerja
1. Penangkapan
Prosedur penangkapan kupu-kupu yang akan dilakukan adalah :
a. Menyiapkan alat penangkapan yaitu: sweep net, kertas papilot, box tempat menyimpan kupu-kupu, dan alat tulis
b. Menunggu di taman (lokasi penelitian) dari jam 06.00- 11.00 WIB
c. Digunakan sweep net untuk menangkap kupu-kupu
d. Setelah ditangkap, kupu kupu dimasukkan ke dalam kertas papilot. Bagian sayap, diletakkan pada bagian kertas yang luas.
e. Kupu-kupu dimatikan dengan cara menekan kepalanya.
f. Kupu kupu disimpan dalam box kardus kecil
2. Pengeringan
Tahapan dalam proses pengeringan kupu-kupu adalah:
a. Menyiapkan alat yang digunakan yaitu: box pengering, sterofoam dengan tebal 2 cm dan 1 cm,kertas papilot dan jarum insect
b. Memotong sterofoam sesuai dengan luas box pengering (digunakan sebagai alas)
c. Memotong sterofoam (tebal :1 cm) dengan ukuran selebar rentangan sayap kupu-kupu
d. Melapisi semua sterofoam (alas dan sterofoam yang memiliki ketebalan 1 cm) dengan kertas papilot
e. Menusuk 1/3 bagian badan dengan jarum insect ke sterofoam
f. Merentangkan sayap kupu-kupu,di atas sterofoam yang memiliki ketebalan 1 cm
g. Menutup sayap tersebut dengan kertas papilot, lalu tusuk menggunakan jarum insect
h. Masukkan sterofoam yang sudah berisi kupu-kupu ke dalam box pengering

3. Pembuatan Insektarium
Setelah diidentifikasi,kupu – kupu dibuat menjadi insektarium. Berikut langkah-langkah dalam pembuatan insektarium.
a. Kupu-kupu yang telah dimasukkanpada kertas papilot,
b. Meletakkan kupu-kupu di atas sterofoam, direntangkan sayapnya dengan hati hati. Bagian kepala ditusuk di sebelah kanan, menggunakan jarum insect.
c. Merentangkan sayap . Menutup sayap dengan kertas papilot menggunakan jarum.
d. Setelah semua kupu-kupu ditata di atas sterofoam, kupu-kupu dikeringan menggunakan lampu 5 watt ( lampu digantung) selama 3 hari.
e. Menggantungkan kapur barus (dibungkus menggunakan kain) pada sterofoam, agar koleksi kupu-kupu terhindar dari semut.
f. Meletakkan sterofoam pada kertas besar yang terbuat dari karton
g. Agar hasil koleksian tampak dari luar, tutup kotak terbuat dari plastik transparan atau kaca

4. Identifikasi Kupu-Kupu
Dalam penelitian ini identifikasi yang akan dilakukan adalah:
a. Mengidentifikasi bagian sayap, meliputi identifikasi warna, bentuk,dan kerangka sayap.
b. Mengidentifiksi bagian kepala, meliputi identifikasi bentuk kepala, mulut,sungut, mata tunggal (ada atau tidak) dan antenna.
c. Mengidentifikasi thorax,terdapat tiga kaki
d. Mencocokkannya dengan informasi yang ada pada Buku Borror (1992)

BAB V
DATA DAN ANALISA DATA

5.1 DATA
Penangkapan kupu-kupu dilakukan pada tanggal 20 Maret , 27 Maret, 10 April,21 April dan 23 April 2011. Berikut foto kupu-kupu yang telah ditangkap.
No Tempat Waktu Spesies
1 Area Taman Perpustakaan UM Minggu, 20 Maret 2011 06.15-08.00

2

3 Area Perpustakaan UM dan area Masjid Minggu, 27 Maret 2011
07.30-10.30

4

5 Taman Perpustakaan UM Minggu, 10 April 2011
07.30-10.30

6

7

8

9 Taman Fakultas Ekonomi Minggu
10 April 2011,
07.30-10.30

10 Area FMIPA Kamis, 21 April 2011, 09.00-10.05

11 Area asrama putri baru Sabtu, 23 April 2011 09.00- 11.30

12

13 Area FMIPA Sabtu, 23 April 2011 09.00- 11.30

14 Area Grahacakrawala Sabtu, 23 April 2011 09.00- 11.30

15

16 Area Fakultas Pendidikan Minggu, 1 Mei 2011, 07.00-11.00

17

18

19 Area FMIPA Minggu, 1 Mei 2011 07.00 – 11.00

20

21

5.2 ANALISIS DATA
No Tempat Waktu Spesies Ciri-ciri
1 Area Perustakaan UM Minggu, 20 Maret 2011
06.15-08.00
a.

b. • terdapat sayap-sayap yang bagus dan berkembang
• Memiliki corak sayap coklat muda dengan motif hitam putih di tepi sayapnya
• Sungutnya bertipe colias
• probosisnya menggulung
• Bentangan sayap atas 3 cm
• Bentangan sayap bawah 2,2 cm
• Termasuk dalam family Danaide

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Pada bagian dorsal warna sayapnya putih dan hitam
• Pada bagian ventral warna sayapnya putih, orange dan kuning
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung kedalam
• Bentangan sayap atas 3,1 cm
• Bentangan sayap bawah 2 cm
• Termasuk dalam family Pieridae
2 Area Perpustakaan UM dan area Masjid Minggu, 27 Maret 2011
07.30-10.30
a.

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayapnya belang-belang putih dan coklat
• Pada bagian ventral sayap, terdapat warna kuning
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya pendek dan melingkar
• Bentangan sayap atas 2,5 cm
• Bentangan sayap bawah 1,3 cm
• Termasuk dalam famili Pierridae
• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayapnya putih dengan bercak coklat pada ujung atas sayap atas
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisinya tidak menggulung
• Bentangan sayap atas 2 cm
• Bentangan saya bawah 1,5 cm
• Biasanya terbang berpasangan
• Termasuk dalam family Pierredae dan subfamily pireinae
3 Taman Perpustakaan UM Minggu, 10 April 2011
07.30-10.30

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal hitam dengan bercak-bercak kuning dan terdapat totol coklat dibagian bawah sayap bawah
• Warna sayap bagian ventral lebih indah dan banyak terdapat totol
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung
• Bentangan sayap atas 4 cm, bawah 2,3 cm
• Termasuk family Pierridae

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventral sama yaitu kuming dan terdapat bercak coklat di ujung atas sayap atas dan ujung bawah sayap bawah
• Sungutnya bertipe colias
• Bentangan sayap atas 2 cm, bawah 1.3 cm
• Termasuk family Pierridae dan subfamily colliadinae
• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventralnya sama
• Warna sayapnya coklat dengan berca-bercak putih pada sayap atas dan garis-garis putih pada sayap bagian bawah
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya bertipe colias
• Bentangan sayap atas
• Bentangan sayap atas 3,4 cm
• Bentangan sayap bawah 2,3 cm
• Termasuk dalam family Pierridae

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventralnya sama
• Warna sayapnya hijau muda dan pada pangkal sayap yang melekat pada tubuh terdapat warna kuning
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya panjang dan melingkar padabagian ujungnya
• Bentangan sayap atas 3,1 cm
• Bentangan sayap bawah 2, 5 cm
• Termasuk family Pierridae
Taman Fakultas Ekonomi Minggu
10 April 2011,
07.30-10.30

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap dorsal, pada bagian tengah kuning dan tepi sayapnya hitam
• Warna sayap ventral, sayap atas hitam dengan bercak-bercak kuning pada bagian tepi, sayap bawahnya kuning dengan bercak hitam di bagian tepid an pada bagian ujung atas sayap bawah terdapat warna orange
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung
• Bentangan sayap atas 3,2 cm
• Bentangan sayap bawah 2,3 cm
• Termasuk dalam family Pierridae
4. Area FMIPA Kamis, 21 April 2011, 09.00-10.05

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Sayap bagian ventral dan dorsalnya sama
• Sayap berwarna coklat dengan bintik-bintik seperti mata di bagian tepi
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung dan pendek
• Bentangan sayap atas 2,2 cm
• Bentangan sayap awah 1,9 cm
• Termasuk dalam family satyridae
5 Area asrama putri baru Sabtu, 23 April 2011 09.00- 11.30

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventral sama yaitu kuming dan terdapat bercak coklat di ujung atas sayap atas dan ujung bawah sayap bawah
• Sungutnya bertipe colias
• Bentangan sayap atas 2 cm, bawah 1,3 cm
• Termasuk dalam famili Pierridae

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayapnya belang-belang putih dan coklat
• Pada bagian ventral sayap, terdapat warna kuning
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya pendek dan melingkar
• Bentangan sayap atas 2,5 cm, bawah 1,3cm
• Termasuk dalam famili Pierridae da subfamily Colliadinae

Area FMIPA Sabtu, 23 April 2011 09.00- 11.30
• Sayapnya bagus dan berkembang
• Pada bagian dorsal warna sayapnya putih dan hitam
• Pada bagian ventral warna sayapnya putih, orange dan kuning
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung kedalam
• Bentangan sayap atas 3,1 cm,bawah 2 cm
• Termasuk dalam family Pieridae
Area Grahacakrawala Sabtu, 23 April 2011 09.00- 11.30

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Sayap bagian dorsal dan ventralnya sama
• Warna sayapnya orange kecoklatan dengan bintik-bintik besar seperti mata
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung dan pendek
• Bentangan sayap atas 2,5 cm
• Bentangan sayap bawah 1,5 cm
• Termasuk famili satyridae

• terdapat sayap-sayap yang bagus dan berkembang
• Memiliki corak sayap coklat muda dengan motif hitam putih di tepi sayapnya
• -Sungutnya bertipe colias
• -probosisnya menggulung
• Bentangan sayap atas 3 cm, bawah 2,2 cm
• Termasuk dalam family Danaide
6 Area Fakultas Pendidikan Minggu, 1 Mei 2011, 07.00-11.00

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Sayap bagian ventral dan dorsalnya berbeda
• Sayap bagian dorsal putih, dan terdapat corak hitam dibagian tepi
• Sayap bagian ventral , pertulangan sayapnya diwarnai oleh warna coklat, terdapat warna kuning di pangkal sayapnya
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung
• Bentangan sayap atas 3 cm, bawah 2,2 cm
• Termasuk family Pieridae

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventral sama yaitu kuning dan terdapat bercak coklat di ujung atas sayap atas dan ujung bawah sayap bawah
• Sungutnya bertipe colias
• Bentangan sayap atas 2 cm,bawah 1,3 cm
• Termasuk family Pierridae dan subfamili Colliadinae

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventralnya berbeda
• Warna ayap bagian dorsal lebih gelap dibandingakan bagian ventralnya
• Sungutnya bertipe dasteria
• Probosisnya melengkung
• Bentangan sayap atas 1,5 cm, bawah 1 cm
• Termasuk dalam famili Satyridae
7 Area FMIPA Minggu, 1 Mei 2011 07.00 – 11.00

• Sayapnya bagus dan berkembang
• Pada bagian dorsal warna sayapnya putih dan hitam
• Pada bagian ventral warna sayapnya putih, orange dan kuning
• Sungutnya bertipe colias
• Probosisnya menggulung kedalam
• Bentangan sayap atas 3,1 cm, bawah 2 cm
• Termasuk dalam family Pieridae

• Sayap bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventralnya berbeda
• Warna sayap bagian dorsal lebih gelap dibandingkan warna sayap bagian ventral
• Pada sayap bagian ventralnya terdapat bintik –bintik mata pada sayap bagian bawahnya
• Sungutnya bertipe drasteria
• Probosisnya menggulung
• Bentangan sayap atas 4,9 cm, bawah 3,2 cm
• Termasuk dalam famili Nymphalidae

• Sayap bagus dan berkembang
• Warna sayap bagian dorsal dan ventralnya berbeda
• Warna sayap bagian dorsal lebih terang dan terdapat warna biru di ujung atas sayap atas, dan warna coklat di bagian bawah sayap bawah
• Warna sayap bagian ventral coklat tua
• Probosisnya pendek dan melengkung
• Bentangan sayap atas 3cm , bawah 2 cm
• Termasuk famili Nymphalidae

BAB VI
PEMBAHASAN

Pada penelitian identifikasi kupu-kupu di area UM (Taman perputakaan UM, Area Fakultas Ekonomi, Area Fakultas MIPA, Area Graha cakrawala dan Asrama putrid baru) didaptkan kupu-kupu dengan jumlah yang banyak, namun kupu-kupu tersebut jenisnya sama. Sehingga, spesies yang sama diedentifikasi satu saja.
Penangkapan kupu-kupu yang dilakuakan mulai tanggal 20 Maret -1 Mei 2011 berhasil mengidentifikasi 15 spesies. Identifikasi yang dilakuakn hanya sampai jenjang famili .Famili dari kupu-kupu yang diedentifikasi adalah
1. Famili Danaide : 1
2. Famili Pierridae :9
3. Famili Satyridae :3
4. Famili Nymphalidae : 2

Famili Danaidae
Danaid adalah kupu-kupu besar dan berwarna cemerlang, biasanya kecoklat-coklatan dengan tanda-tanda hitam dan putih. Tungkai-tungkai depan sangat kecil,tanpa kuku-kuku, dan tidak dipakai untuk berjalan.Radius pada sayap depan bercabang lima, sel diskal tertutup oleh rangka-rangka sayap yang berkembang baik, dan terdapat rangka sayap anal ketiga yang pendek pada sayap depan.
Jenis yang paling umum dalam kelompok ini adalah kupu-kupu raja, Danaus plexippus (L) yang terdapat di seluruh Amerika serikat dan sebagian besar dari sisi dunia. Kupu-kupu raja adalah kupu-kupu coklatkemerah-merahan dengan sayap-sayap yang dibatasi oleh warna hitam.Pada kebanyakan pita tepi yang hitam terdapat dua baris bintik-bintik kecil putih.

Famili Satyridae
Kupu-kupu ini berukuran kecil sampai sedang, biasanya keabu-abuan atau coklat, dan mereka biasanya mempunyai bintik-bintik seperti mata pada sayap-sayap. Radius pada sayap-sayap depan lima cabang, dan beberapa rangka sayap pada sayap-sayap depan agak menggembung di dasar. Larva makan rumput-rumput. Krisalis biasanya ditautkan oleh kremaster pada daun-daun dan obyek-obyek lain.
Salah satu denis dari kelompok ini adalah kupu-kupu nimfa kayu, Caryonis pegala, seekor kupu-kupu coklat gela, berukuran sedang dengan sebuah pita lebar yang berwarna kekuning-kuningan melintang bagian ujung sayap depan. Pita ini mengandung dua bintik pita hitam dan putih. Jenis umum lainnya adalah kupu-upu satyr kayu yang kecil, Megysta cymela, seeekor kupu-kupu abu kecoklat-coklatan ddengan bintik-bintik mata yang jelas pada sayap –sayap dan dengan satu bentangan sayap kira-kira 25 mm.

Famili Pierridae
Kupu-kupu ujung orange ,kupu-kupu putih, kupu-kupu belerang. Pierid-pierid adalah kupu-kupu berukuran sedang sampai kecil biasanya putih atau kekuning-kuningan dengan tanda –tanda hitam pada tepi sayap. Radius pada sayap depan biasanya bercabang tiga atau empat (jarang lima cabang pada beberapa kupu-kupu ujung orange). Tungkai – tungkai depan bagus dan berkembang, dan kuku-kuku tarsus terbelah dua. Krisalid memanjang dan sempit dan ditautkan oleh kremaster dan oleh satu sabuk sutera sekitar tengah badan. Banyak pireid sangat umum dan kupu-kupu yang banyak dan kadang –kadang terlihat dalam migrasi missal. Famili Pierridae memiliki 4 subfamili yaitu: Pierinae, Anthocharinae, Coliadinae, Dismorphoniae.
a. Subfamili Pierinae
Kupu-kupu ini biasanya putih. Terdapat satu rangka sayap humerus yang jelasa di sayap belakang dan ruas ketiga palpus labialis panjang dan meruncing. Satu dari kebanyakan jenis yang umum dalam kelompok ini adalah kupu-kupu kubis

b. Subfamili Anthocarinae
Kupu-kupu ujung orange ini adalah kupu-kupu kecil yang putih dengan tanda-tanda gelap. Bagian bawah sayap –sayap bertotol hijau, sayap-sayap depan dari banyak jenis berujung orange. Kupu-kupu ini banyak terdpat di bagian barat. Hanya dua jenis terdapat di Timur dan relatif jarang ditemukan.Larva dari kupu-kupu ini memakan tanaman krusivera.
c. Subfamili Coliadinae
Kupu-kupu belerang tau kupu-kupu kuning. Pierid ini kuning atau orange dan biasanya mempunyai sayap-sayap yang bertepi hitam. Jarang kupu-kupu ini putih dengan tepi-tepi sayap hitam. Rangka-rangka sayap humerus di sayap belakang tidak ada atau hanya diwakili oleh satu potongan ,ruas ketiga palpus labialis pendek.Banyak jenis terdapat dalam dua atau lebih bentuk warna musiman.
d. Subfamili Dimosphorphinae
Dismorphinae adalah satu kelompok tropika, hanya satu jenis darinya berada di Texas bagian selatan.

Famili Nymphalidae
Kupu-kupu berkaki sikat. Ini adalah salah satu kelompok yang cukup besar dan mencakup banyak kupu-kupu yang umum. Nama umum dari family ini merujuk pada fakta bahwa tungkai-tungkai depan sangat menyusut dan tidak ada kuku-kuku dan hanya ada tungkai tengah dan belakang dipakai untuk berjalan. Famili ini terbagi menjadi 8 subfamili,yaitu; Subfamili Heliconiinae, Limentidinae, Argynnae, Melitaenae,Nymphalinae, Apaturinae, Charaxinae,dan Marphesinae.
a. Subfamili Heliconiinae
Kupu-kupu Helikonia berbeda dari kupu-kupu nymphaid lainnya. Karena mempunyai rangka-rangka sayap humerus pada sayap belakang membengkok ke dasar dan sayap-sayap depan secara relatif panjang dan sempit.Kelompok ini sebagian besar di daerah tropis dan hanya lima jenis yang terdapat di Amerika serikat.

b. Subfamili Limentidinae
Anggota dari kelompok ini adalah kelompok kupu-kupu berukuran sedang dimana ada sungut panjang dan rangka-rangka sayap humerus pada sayap belakang timbul berhadapan dengan sesalnya Rs
c. Subfamili Argynnae (Rama-Rama)
Rama-rama adalah kupu-kupu yang kecoklat-coklatan dengan tanda-tanda hitam yang banyak,terdiri atas garis-garis bergelombang yang pendek dan berbintik-bintik. Bagaian bawah sayap seringkali ditandai dengan bintik-bintik keperak-perakkan.
d. Subfamili Melitaeinae
Anggota –anggota kelompok ini adalah kupu-kupu yang kecil yang matanya telanjang dan palpus tertutup rambut yang lebat dibawahnya.
e. Subfamili Nymphalinae
Kupu-kupu ini mempunyai mata yang berambut, dan sayap-sayap belakang bersudut atau berekor pada ujung M3.Kupu-kupu bersayap sudut berukuran kecil sampai sedang dan kecoklat-coklatan dengan tanda-tanda hitam.Sayap-sayap secara tidak teratur berlekuk dan seringkali mengandung juluran-juluran seperti ekor, dan separuh bagian distal dari tepi belakang sayap depan agak berlubang. Bagian bawah sayaplebih gelap dan kelihatan tepat seperti selembar daun yang mati.
f. Subfamili Apaturinae
Kupu-kupu ini menyerupai kupu-kupu wanita berhias, tetapi daerah-daerah yang gelap pada sayap depan kecoklat-coklatan selain daripada hita, dan matanya telanjang.
g. Subfamili Charaxinae
Mencakup kupu-kupu berayap daun, Anaena
h. Subfamili Marphesinae
Mencakup kupu-kupu bersayap ungu (Eunica) dan kupu-kupu bersayappenusuk (Marpesia)

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
1.Ciri-ciri kupu-kupu yang ditemukan pada masing-masing lokasi penelitian tercantum dalam tabel berikut ini.
No Lokasi Ciri-ciri
1 Area Taman Perpustakaan Umum Universitas Negeri Malang (UM) • Sayapnya bagus dan berkembang
• Sungut bertipe colias
• Probosisnya menggulung
2 Area Masjid UM • Sayapnya bagus dan berkembang
• Sungut bertipe colias
• Probosisnya menggulung
3 Area Fakultas Ekonomi • Sayapnya bagus dan berkembang
• Sungut bertipe colias
• Probosisnya menggulung
4 Area Fakultas Pendidikan • Sayapnya bagus dan berkembang
• Sungut bertipe colias dan dasteria
• Probosisnya menggulung
5 Area Asrama Putri • Sayapnya bagus dan berkembang
• Sungut bertipe colias
• Probosisnya menggulung
6 Area Fakultas MIPA • Sayapnya bagus dan berkembang
• Warna sayap ventral dan dorsal berbeda
• Sungut bertipe colias dan drasteria
• Probosisnya menggulung dan ada juga yang pendek dan melengkung
7 Area Graha Cakrawala • Sayapnya bagus dan berkembang
• Sungut bertipe colias
• Probosisnya menggulung

3. Penelitian ini mengidentifikasi kupu-kupu sampai jenjang family dengan menggunakan buku Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam (Borror, 1992) .Namun, peneliti juga mencocokkan jenis kupu-kupu yang ditemukan dengan kupu-kupu yang sudah diketahui nama spesiesnya dari internet. Berikut data kupu-kupu di UM yang memiliki jenjang takson sama dengan kupu-kupu yang telah diketahui nama spesiesnya.
No Sampel kupu-kupu dari UM Kupu-kupu yang telah diketahui spesiesnya Nama spesiesnya
1

Delias hyparete
2

Eurema sarilata
3

Cepora iudith
4

Mycalesis gotama

3. Jenis kupu-kupu yang dominan di area UM adalah dari famili Pieridae

7.2 Saran
Penelitian ini, harus sering dilakukan untuk mendapatkan data yang valid. Sehingga keberadaan/ keanekaragaman jenis kupu-kupu di area UM dapat teridentifikasi. Sehingga diharapkan, akan ada koonservasi kupu-kupu di UM. Dalam penelitian ini saran yang dapat dikemukakan antara lain adalah
• Waktu pengambilan kupu-kupu hendaknya lebih diperhatikan,
• Pilihlah berbagai lokasi yang berbeda,
• Identifikasi secara lengkap dan detail, serta siapkan peralatan yang dibutuhkan untuk penelitian ini, agar data yang diperoleh lengkap
• Wadah insektarium diberi kamper secara kontinue

DAFTAR PUSTAKA

Borror, D. et al. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam. Yogyakarata: UGM press.
Jordan, E.L. 1963. Invertebrate Zoology (Verma, P.S, Ed). Lucknow: S. Chand & Company LTD.
Kastawi, Y, dkk. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang : UM Press.
Noprin, H. 2010. Kupu-kupu.(Online),(www.hendronoprin.blogspot.com, diakses pada 8 Ferbruari 2011).

Lampiran
DOKUMENTASI PENELITIAN

Lokasi penangkapan:Area Taman Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM).

Perpustakaan tampak depan Taman di dekat Pintu masuk Perpus

Jalan utama perpus Jalan sisi kiri(miring)depan perpus

Taman di samping sisi kanan jalan ( miring ) perpus Taman di samping sisi kiri jalan (miring) menuju perpus
.

Menangkap kupu-kupu Menangkap ngengat

Kupu yang tertangkap Menyimpan sementara di kertas papilot

Melipat kertas papilot (agar kupu tidak jatuh dan sayapnya terlindungi)

Lokasi penelitian : Area Taman Fakultas Ekonomi

Fakultas Ekonomi Taman di FE

Taman FE Taman di FE

Tanaman bunga di Taman FE Proses menangkap kupu-kupu

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.